:In Memorium Rifian Hadi, S.Pd., M.Pd.
Oleh: Aan Frimadona Roza
Ketua UKMBS Unila Periode 2005–2006
Kabar duka itu datang pada Jumat malam, 12 Juni 2026. Sebuah pesan singkat beredar di antara para alumni dan keluarga besar UKMBS Universitas Lampung. Isinya sederhana, namun cukup membuat hati terdiam lama. “Telah meninggal dengan tenang guru, abang, mamang, senior kita yang tercinta, almarhum Rifian Hadi, S.Pd., M.Pd.”
Saya membaca pesan itu berulang kali. Sulit mempercayainya. Dalam diam saya memanjatkan doa, semoga Allah SWT mengampuni segala dosa beliau, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.
Lalu, seperti banyak orang lainnya, Karena saya berdomisili jauh dari rumah duka dan saya aktiv di media sosial, Saya melengkapi tulisan saya sebelumnya denga menambah kan satu kalimat tulisan yang paling jujur dan paling sering kita ucapkan ketika kehilangan orang baik:
“Saya bersaksi beliau adalah orang baik.”
Bagi kami di UKMBS Unila, Rifian Al Chepy atau yang akrab kami panggil Mang Chepy bukan sekadar nama dalam daftar alumni. Beliau adalah guru, abang, mamang, sekaligus senior yang selalu hadir ketika organisasi membutuhkan arahan dan petunjuk. Beliau adalah salah satu ketua UKMBS pada era 1990-an, jauh sebelum saya yang dipercaya memimpin organisasi pada periode 2005–2006.
Meski berbeda generasi kepengurusan, komunikasi kami tidak pernah terputus. Ketika menghadapi persoalan organisasi, menyusun program kerja, mencari masukan untuk kegiatan, bahkan ketika proposal kegiatan membutuhkan dukungan dana, Mang Chepy adalah salah satu senior yang kerap kami hubungi. Dan hampir selalu, beliau menjawab dengan perhatian yang sama seperti seorang kakak kepada adiknya.
Di tengah kesibukan sebagai ASN dan aktivitas kehidupannya, beliau tetap menyempatkan hadir untuk UKMBS. Orientasi penerimaan anggota baru, pentas seni mahasiswa baru, pelatihan alam anggota baru, hingga berbagai program pementasan seni, sering kali mendapatkan sentuhan pemikiran dan pengalaman dari beliau. Tidak jarang beliau hadir sebagai narasumber, pembicara, atau sekadar memberikan penguatan kepada generasi yang lebih muda.
Kini ketika mengenang beliau, ingatan saya kembali pada Gedung PKM Universitas Lampung. Gedung yang menjadi saksi lahirnya begitu banyak cerita, persahabatan, dan mimpi-mimpi anak muda pencinta seni. Di tempat itu, setelah pementasan usai dan tepuk tangan penonton perlahan menghilang, kami berkumpul bersama. Ada yang masih bernyanyi, ada yang menari, ada yang berdiskusi tentang sastra, teater, tari, artistik, bahkan proposal kegiatan yang belum selesai. Kadang-kadang kami hanya duduk menikmati secangkir kopi yang mulai dingin sambil menghabiskan obrolan hingga larut malam.
Di gedung itu pula berbagai karakter datang dan pergi. Ada yang kemudian menjadi guru, seniman, birokrat, pengusaha, aktivis, atau pemimpin di tempatnya masing-masing. Namun semuanya pernah belajar di rumah yang sama: UKMBS.
Saya menghabiskan banyak waktu di Gedung PKM antara tahun 2001 hingga 2008. Dan dalam perjalanan itu, sosok Mang Chepy selalu hadir sebagai salah satu penanda bahwa organisasi bukan sekadar tempat berkegiatan, melainkan tempat belajar menjadi manusia.
Beliau sering mengingatkan kami bahwa apa yang diperoleh di UKMBS bukan hanya kemampuan bernyanyi, menari, bermain teater, atau menulis sastra. Yang lebih penting adalah belajar berorganisasi, belajar menghargai perbedaan, belajar memimpin, belajar bekerja sama, dan belajar hidup bermasyarakat. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun waktu membuktikan betapa benarnya nasihat tersebut. Banyak alumni UKMBS yang kemudian mampu berdiri di tengah masyarakat karena bekal yang mereka dapatkan dari proses panjang di organisasi.
Hari ini Mang Chepy telah berpulang. Namun nilai-nilai yang beliau tanamkan tidak ikut pergi. Ia hidup dalam kenangan, dalam cerita-cerita yang terus dituturkan, dan dalam langkah-langkah para adik yang pernah beliau bimbing. Sebab sejatinya, ada orang-orang yang meninggalkan dunia tanpa pernah benar-benar meninggalkan kita. Mereka tetap tinggal dalam ingatan, dalam pelajaran hidup yang diwariskan, dan dalam jejak kebaikan yang terus berjalan.
“Selamat jalan, Mang Chepy”.
Terima kasih telah menjadi guru ketika kami membutuhkan pelajaran, menjadi abang ketika kami membutuhkan tempat bertanya, dan menjadi rumah ketika kami membutuhkan arah.
Kami bersaksi, engkau adalah orang baik. Al-Fatihah.
