Perda Literasi: Ketika Way Kanan Menulis Takdir Masa Depannya‎‎

Oleh: Aan Frimadona Roza‎, Penggiat Rumah Baca Yussuf dan Pengurus ICMI Orda Way Kanan‎‎

Sebuah daerah bisa membangun jalan agar kendaraan melaju lebih cepat. Sebuah daerah juga bisa membangun gedung-gedung megah agar roda pemerintahan berjalan lebih baik. Namun, hanya daerah yang berpikir jauh ke depan yang mau membangun manusia melalui literasi. Sebab, jalan menghubungkan satu tempat ke tempat lain, sedangkan literasi menghubungkan manusia dengan masa depannya.‎Karena itu, pengesahan Peraturan Daerah (Perda) tentang Gerakan Literasi Daerah oleh DPRD Kabupaten Way Kanan bersama Pemerintah Kabupaten Way Kanan patut disambut sebagai sebuah tonggak sejarah. ‎‎Di tengah pembahasan APBD dan pembangunan infrastruktur, lahirlah sebuah regulasi yang sesungguhnya sedang menanam benih peradaban.‎

Keputusan ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Way Kanan di bawah kepemimpinan Bupati Ayu Asalasiyah memiliki kesadaran bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi. Pembangunan harus dimulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Sebab, manusia yang cerdas akan mampu menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.‎‎Hari ini, literasi telah mengalami perubahan makna. Ia bukan lagi sekadar kemampuan mengeja huruf demi huruf atau membaca lembar demi lembar buku. Literasi adalah kecakapan memahami informasi, berpikir kritis, menyaring berita palsu, bijak menggunakan media digital, serta melahirkan ide-ide kreatif yang mampu menjawab tantangan zaman.‎‎Di era kecerdasan buatan dan derasnya arus informasi, kemampuan membaca saja tidak lagi cukup. Yang dibutuhkan adalah kemampuan memahami, menganalisis, lalu mengambil keputusan dengan bijaksana. Inilah modal utama untuk melahirkan generasi Way Kanan yang unggul dan berdaya saing.‎

Sebagai penggiat Rumah Baca Yussuf, saya melihat Perda ini bukan sekadar dokumen hukum. Ia adalah harapan baru bagi ribuan anak yang sedang belajar mengenal buku, bagi para guru yang setiap hari menanamkan budaya membaca, bagi perpustakaan desa yang berjuang tetap hidup, bagi taman bacaan masyarakat yang terus menyalakan semangat belajar, dan bagi komunitas literasi yang selama ini bergerak dengan segala keterbatasannya.‎‎Kini perjuangan itu memiliki payung hukum. Program literasi tidak lagi bergantung pada pergantian pemimpin atau kebijakan yang bersifat sementara. Seluruh perangkat daerah, sekolah, kampung, keluarga, dunia usaha, media, hingga komunitas memiliki arah yang sama dalam membangun budaya literasi.‎

Namun, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah Perda disahkan. Regulasi hanya akan menjadi tumpukan kertas apabila tidak diterjemahkan menjadi gerakan nyata. Literasi harus hadir di ruang kelas, di rumah-rumah, di perpustakaan desa, di balai kampung, di rumah baca, bahkan di gawai yang setiap hari berada dalam genggaman masyarakat.‎‎Budaya membaca tidak lahir karena perintah, tetapi karena keteladanan. Anak-anak akan mencintai buku ketika melihat orang tuanya membaca. Siswa akan gemar belajar ketika gurunya memberi contoh. Masyarakat akan menghargai ilmu ketika para pemimpinnya menunjukkan bahwa pengetahuan adalah fondasi kemajuan.‎Way Kanan sesungguhnya sedang menulis babak baru. Jika selama ini pembangunan identik dengan beton, aspal, dan bangunan fisik, kini pembangunan itu mulai menyentuh sesuatu yang jauh lebih mendasar, yakni cara berpikir masyarakatnya. Sebab, daerah yang kuat bukan hanya memiliki infrastruktur yang baik, tetapi juga manusia yang berkarakter, berpengetahuan, dan mampu beradaptasi dengan perubahan.‎‎

Saya percaya, beberapa tahun ke depan, manfaat Perda Literasi ini akan terasa. Minat baca meningkat, perpustakaan semakin hidup, rumah-rumah baca berkembang, karya-karya lokal bermunculan, budaya daerah terdokumentasi dengan baik, dan Indeks Pembangunan Manusia Way Kanan ikut terdongkrak. Semua itu berawal dari satu keberanian: menjadikan literasi sebagai kebijakan daerah.‎‎

Pepatah mengatakan, “Daerah yang membangun jalan akan mempercepat perjalanan, tetapi daerah yang membangun literasi akan mempercepat peradaban.” Hari ini, Way Kanan telah memilih menyalakan pelita itu. Semoga cahaya literasi tidak hanya menerangi rak-rak buku, tetapi juga menyinari cara berpikir, cara bekerja, dan cara bermimpi seluruh masyarakat Way Kanan. Sebab, peradaban besar selalu dimulai dari satu halaman yang dibaca dan satu gagasan yang diperjuangkan.Tabik.‎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *