“Di Gerbang Sekolah, Ayah Menitipkan Masa Depan”

Oleh: Aan Frimadona Roza, M.Pd.
Tenaga Pendidik dan Pengurus ICMI Orda Way Kanan


Hari pertama sekolah selalu menghadirkan cerita. Ada anak yang datang dengan wajah ceria, ada yang masih malu-malu, bahkan ada yang enggan melepaskan genggaman tangan orang tuanya. Namun di balik suasana itu, ada satu pemandangan sederhana yang sesungguhnya menyimpan makna luar biasa, yaitu seorang ayah yang mengantar anaknya ke sekolah. Mungkin perjalanan itu hanya memakan waktu beberapa menit. Tidak ada pidato panjang, tidak ada nasihat yang berlebihan. Hanya sebuah kebersamaan dari rumah menuju gerbang sekolah. Namun, bagi seorang anak, perjalanan singkat itu akan menjadi kenangan yang tersimpan lama dalam ingatannya.

Ajakan Bupati Way Kanan, Ayu Asalasiyah, S.Ked., melalui program GAMAS (Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah) patut mendapat dukungan dari seluruh masyarakat. Gerakan ini bukan sekadar mengantar anak di hari pertama sekolah, tetapi menghidupkan kembali peran ayah sebagai pendamping utama dalam pendidikan anak.

Selama ini, banyak orang menganggap pendidikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Padahal, sekolah hanyalah salah satu bagian dari proses pendidikan. Guru dapat mengajar di ruang kelas, tetapi pendidikan karakter pertama justru lahir dari rumah. Orang tualah guru pertama, dan ayah adalah sosok yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk keberanian, kedisiplinan, serta rasa percaya diri seorang anak.

Di era digital saat ini, tantangan pendidikan semakin berat. Anak-anak hidup di tengah derasnya arus media sosial, permainan daring, dan kecanggihan teknologi yang menawarkan berbagai kemudahan. Di satu sisi teknologi memberikan manfaat yang luar biasa. Namun di sisi lain, jika tanpa pendampingan, teknologi juga dapat membawa dampak negatif, mulai dari kecanduan gawai, menurunnya minat belajar, hingga berkurangnya interaksi dalam keluarga.

Di sinilah peran orang tua, terutama ayah, menjadi sangat penting. Kehadiran ayah bukan hanya memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga memenuhi kebutuhan emosional anak. Anak yang merasa diperhatikan akan lebih percaya diri, lebih semangat belajar, dan lebih mudah membangun karakter yang kuat.

Sebagai pendidik, Saya melihat keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan peserta didik atau kualitas guru. Keberhasilan pendidikan lahir dari kolaborasi yang erat antara sekolah dan keluarga. Ketika guru mendidik di sekolah dan orang tua melanjutkan pendidikan itu di rumah, anak akan tumbuh dalam lingkungan yang saling menguatkan.

Gerakan GAMAS menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Mengantar anak ke sekolah mungkin terlihat sederhana, tetapi maknanya sangat besar. Anak akan merasakan bahwa dirinya dicintai, didukung, dan tidak berjuang sendirian. Semoga gerakan ini tidak berhenti pada hari pertama masuk sekolah. Akan lebih indah jika kehadiran ayah terus terasa dalam setiap proses belajar anak, menemani ketika mengerjakan tugas, mendengarkan cerita sepulang sekolah, memberi semangat saat gagal, dan merayakan setiap keberhasilan sekecil apa pun. Anak-anak kita kelak akan lupa nilai ulangan yang mereka peroleh. Namun mereka akan selalu mengingat siapa yang menggenggam tangan mereka ketika memulai langkah pertama menuju sekolah.

Mari kita jadikan pendidikan sebagai gerakan bersama. Guru mengajar dengan hati, orang tua mendampingi dengan kasih sayang, dan pemerintah menghadirkan kebijakan yang berpihak pada masa depan anak. Sebab, ketika ayah hadir, guru menginspirasi, dan sekolah menjadi rumah kedua yang menyenangkan, kita tidak hanya sedang mengantarkan anak ke gerbang sekolah. Kita sedang mengantarkan mereka menuju masa depan Way Kanan yang lebih cerdas, berkarakter, dan penuh harapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *