“Menyayangi Anak, Menjaga Masa Depan”

Oleh Aan Frimadona Roza, Penggiat Rumah Baca Yussuf Baradatu

“Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.” Kalimat itu bukan sekadar tema Hari Anak Nasional  pada 23 Juli 2026. Ia adalah panggilan hati yang mengingatkan kita bahwa masa depan bangsa sedang tumbuh di hadapan kita. Di setiap tawa anak, di setiap langkah kecil menuju sekolah, dan di setiap lembar buku yang mereka buka, tersimpan harapan besar tentang Indonesia di masa depan.

Namun, pertanyaannya sederhana sekaligus menggugah: sudahkah kita benar-benar menyayangi anak?

Menyayangi anak tidak cukup dengan memenuhi kebutuhan makan, pakaian, atau memberikan gawai terbaru. Anak membutuhkan sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni rasa aman, perhatian, kasih sayang, teladan, serta kesempatan untuk tumbuh menjadi manusia yang merdeka dalam berpikir dan bermimpi.

Hari ini, tantangan anak-anak semakin kompleks. Mereka hidup di tengah derasnya arus informasi, media sosial, dan teknologi digital. Di satu sisi, teknologi membuka pintu ilmu pengetahuan. Di sisi lain, tanpa pendampingan yang baik, ia juga dapat membawa anak pada perundungan digital, kecanduan gawai, kekerasan, hingga hilangnya budaya membaca.

Di sinilah makna perlindungan anak harus dimaknai lebih luas. Melindungi anak bukan hanya menjauhkan mereka dari kekerasan fisik, tetapi juga melindungi mereka dari kemiskinan literasi, kehilangan karakter, dan lunturnya nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai penggiat Rumah Baca Yussuf, saya percaya bahwa buku adalah salah satu pelukan paling hangat bagi masa depan anak. Buku mengajarkan mereka mengenal dunia, menghargai perbedaan, membangun imajinasi, dan menumbuhkan empati. Anak yang akrab dengan buku akan lebih siap menghadapi kehidupan dibandingkan anak yang hanya akrab dengan layar.

Karena itu, gerakan mencintai anak harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Orang tua meluangkan waktu membaca bersama anak. Guru menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan. Pemerintah memperkuat perpustakaan dan rumah baca. Masyarakat menciptakan lingkungan yang ramah, aman, dan nyaman bagi tumbuh kembang anak.

Hari Anak Nasional jangan hanya menjadi seremoni tahunan yang selesai setelah upacara dan unggahan di media sosial. Ia harus menjadi momentum untuk memperbarui komitmen bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas, perlindungan dari segala bentuk kekerasan, dan ruang untuk mengembangkan potensi terbaiknya.

Sebab, anak-anak hari ini bukan sekadar penerus bangsa. Mereka adalah penentu arah perjalanan Indonesia di masa depan. Bila hari ini kita menghadirkan kasih sayang, perlindungan, dan budaya literasi bagi mereka, maka kelak mereka akan menghadirkan Indonesia yang lebih cerdas, lebih beradab, dan lebih bermartabat.

Mari menyayangi anak bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata. Sebab, di tangan merekalah matahari esok akan tetap menyala atau justru perlahan padam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *