Rumah Baca Yussuf: Dari Gerakan Sosial Menjadi Referensi Ilmiah

Way Kanan, 16 Juli 2026. Di tengah derasnya arus gawai yang kerap mengalihkan perhatian anak-anak dari buku, secercah harapan justru tumbuh dari sebuah rumah baca sederhana di Kampung Bhakti Negara, Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan. Perjuangan itu kini tidak hanya menjadi cerita inspiratif, tetapi juga telah diabadikan dalam sebuah karya ilmiah.

Maria Agustina, mahasiswi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah Institut Al-Ma’arif Way Kanan, sukses mempertahankan skripsinya yang berjudul “Strategi Ketua Rumah Baca dalam Mengelola Rumah Baca Yussuf di Kampung Bhakti Negara” pada sidang skripsi yang berlangsung Kamis, 16 Juli 2026, pukul 08.00 WIB hingga selesai, di Ruang Sidang Fakultas Tarbiyah Institut Al-Ma’arif Way Kanan.

Dalam penyusunan skripsi tersebut, Maria Agustina dibimbing oleh Rusyati Prihatin, M.Pd.I selaku Pembimbing I dan Resti Noviyanti, M.Pd. selaku Pembimbing II. Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus ini mengangkat kiprah Aan Frimadona Roza, Ketua Rumah Baca Yussuf, sebagai subjek utama penelitian. Rumah baca yang berlokasi di Dusun Pekalongan, Kampung Bhakti Negara, menjadi contoh bagaimana gerakan literasi dapat tumbuh dari semangat masyarakat, meski dengan keterbatasan dana, koleksi buku, dan tenaga pengelola.

Penelitian tersebut mengungkap empat strategi utama yang menjadi kekuatan Rumah Baca Yussuf. Pertama, menyusun program berdasarkan kebutuhan dan minat anak-anak sehingga kegiatan membaca terasa dekat dengan dunia mereka. Kedua, menerapkan kepemimpinan partisipatif dengan melibatkan masyarakat agar rumah baca menjadi milik bersama. Ketiga, menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan melalui permainan edukatif, kegiatan mewarnai, mendongeng, dan berbagai kompetisi sederhana sehingga membaca tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang membosankan. Keempat, melakukan evaluasi secara berkelanjutan dan fleksibel agar setiap program mampu menyesuaikan kondisi masyarakat.

Skripsi ini juga menegaskan bahwa pembangunan budaya literasi tidak harus menunggu besarnya anggaran pemerintah. Inisiatif, kepedulian, serta semangat gotong royong masyarakat mampu menjadi fondasi kuat dalam membangun kebiasaan membaca di lingkungan desa.

Menariknya, penelitian ini bukan sekadar memenuhi syarat akademik untuk meraih gelar sarjana. Lebih dari itu, karya ilmiah tersebut menjadi dokumentasi sejarah perjalanan Rumah Baca Yussuf sekaligus bukti bahwa gerakan literasi berbasis masyarakat layak menjadi bahan kajian ilmiah.

Usai sidang, Maria Agustina menyampaikan rasa syukur sekaligus ucapan terima kasih kepada pengelola Rumah Baca Yussuf yang telah membuka pintu bagi proses penelitian.

“Alhamdulillah, sebelumnya terima kasih banyak, Pak, sudah diterima dengan baik dan diperbolehkan melakukan penelitian di Rumah Baca. Insyaallah saya akan segera menyelesaikan versi bukunya dan kembali berkunjung ke Rumah Baca,” ungkap Maria.

Sementara itu, Aan Frimadona Roza mengaku bersyukur karena perjuangan bersama para relawan kini telah menjadi referensi akademik yang diharapkan dapat menginspirasi lahirnya lebih banyak rumah baca di berbagai daerah.
“Semoga skripsi ini bukan menjadi akhir dari sebuah penelitian, tetapi awal dari semakin banyak gerakan literasi yang tumbuh dari desa. Ketika ilmu bertemu kepedulian, maka buku tidak hanya mengisi rak, tetapi juga menerangi masa depan anak-anak,” ujarnya.

Lahirnya skripsi ini menjadi bukti bahwa sebuah rumah baca sederhana dapat melahirkan gagasan besar. Dari rak-rak buku di pelosok desa, tumbuh harapan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan jalan untuk membangun manusia, memperkuat kebersamaan, dan menyiapkan generasi yang lebih baik di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *