Hiperrealitas: Ketika Layar Lebih Nyata daripada Nurani

Oleh: Aan Frimadona Roza
Penggiat Rumah Baca Yussuf

Suatu sore, seorang pengendara sepeda motor tergeletak di jalan setelah mengalami kecelakaan. Orang-orang berdatangan. Namun, ada satu pemandangan yang kini terasa biasa. Bukan tangan yang pertama kali terulur, melainkan telepon genggam yang lebih dulu terangkat.

Ada yang merekam. Ada yang mengambil foto. Ada yang langsung mengunggahnya ke media sosial.
Ironisnya, video itu sampai lebih cepat ke ribuan orang daripada pertolongan yang sampai kepada korban.

Inilah wajah zaman yang oleh para pemikir disebut hiperrealitas. Sederhananya, kita mulai hidup dalam dunia ketika apa yang ada di layar terasa lebih penting daripada apa yang terjadi di depan mata.

Yang dicari bukan lagi bagaimana menolong, tetapi bagaimana mendapatkan gambar yang menarik. Yang dikejar bukan lagi nilai kemanusiaan, melainkan jumlah tayangan, tanda suka, dan komentar.

Tanpa disadari, layar telah mengubah cara kita melihat dunia. Lihatlah kehidupan sehari-hari. Satu video jalan berlubang menjadi viral. Dalam hitungan jam, orang menyimpulkan bahwa semua jalan rusak. Padahal, ribuan kilometer jalan yang baik tidak pernah masuk beranda media sosial.

Satu sekolah mengalami perundungan. Video itu menyebar ke mana-mana. Lalu muncul anggapan bahwa sekolah sudah tidak lagi aman. Padahal, setiap hari ribuan guru mengajar dengan tulus, ribuan siswa belajar dengan semangat, dan ribuan sekolah menjalankan pendidikan dengan baik. Semua itu jarang menjadi tontonan.

Begitu pula dengan program pemerintah. Kesalahan memang harus dikritik karena kritik adalah bagian dari demokrasi. Namun, ketika ruang digital hanya dipenuhi potongan-potongan kegagalan, masyarakat bisa kehilangan gambaran yang utuh. Yang terlihat hanyalah sisi gelap, sementara sisi terang tenggelam dalam sunyi.

Inilah jebakan hiperrealitas. Bukan karena kenyataan berubah, tetapi karena perhatian kita diarahkan hanya pada bagian yang paling mengundang emosi.

Media sosial memang bukan musuh. Ia telah memberi ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan informasi. Banyak ketidakadilan terungkap karena kamera warga. Banyak pelayanan publik membaik karena pengawasan masyarakat.

Masalahnya bukan pada kameranya. Masalahnya muncul ketika kamera menggantikan hati nurani. Ketika melihat kecelakaan, pertanyaan pertama seharusnya bukan, “Bagaimana supaya video ini viral?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan nyawa orang ini?”. Ketika melihat persoalan di sekolah, jangan hanya membagikan videonya. Mari ikut mencari jalan keluarnya. Ketika melihat jalan rusak, laporkan kepada pihak berwenang, bukan hanya menjadikannya bahan tontonan. Ketika melihat pelayanan yang buruk, sampaikan kritik yang jujur sekaligus dorong perbaikannya.

Literasi pada akhirnya bukan sekadar kemampuan membaca kata-kata. Literasi adalah kemampuan membaca kenyataan secara utuh. Tidak mudah terpancing oleh sensasi. Tidak cepat mengambil kesimpulan hanya dari satu potongan video. Tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.
Kita boleh hidup di zaman digital. Kita boleh memanfaatkan teknologi secanggih apa pun. Namun, jangan sampai dunia di layar menjadi lebih hidup daripada rasa kemanusiaan di dalam diri. Sebab, bangsa ini tidak akan dikenang karena seberapa banyak video yang berhasil direkam. Bangsa ini akan dikenang karena seberapa banyak orang yang masih memilih menjadi penolong ketika yang lain sibuk menjadi penonton.

Mungkin, itulah tantangan terbesar manusia hari ini: mengembalikan nurani agar selalu lebih cepat bergerak daripada kamera. Tabik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *