Catatan Oleh Aan Frimadona Roza, Juri Lomba Perpustakaan Kampung Tingkat Kabupaten Way Kanan Tahun 2025
Apresiasi setinggi-tingginya atas kegiatan pembudayaan gemar membaca tingkat daerah/kabupaten dengan pemberian Penghargaan Gerakan Budaya Gemar Membaca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Way Kanan yang melakukan aksi nyata dalam rangka mensosialisasikan pentingnya ruang publik (perpustakaan) dikampung kampung dalam menggelorakan keaktifan gerakan membaca di perpustakaan Kampung dengan menyediakan layanan bacaan masyarakat ditengah keberadaan dan keberanian kampung yang konsisten dalam gerakan literasi nasional sekaligus menyelenggarakan lomba Perpustakaan Desa/Kampung tingkat Kabupaten Way Kanan pada minggu ke tiga bulan Mei tahun 2025.
Catatan dari penulis ditemui perpustakaan kampung yang belum menyediakan ruang publik tersebut bahkan sudah ada tapi terbengkalai dan tidak terurus dengan berbagai kendalanya. Dari berbagai sumber penulis merangkum beberapa permasalahan yang umum ditemui kaitannya dengan perpustakaan kampung atau desa kendala yang dihadapi secara umum yakni:
Pertama Pembiayaaan,
Dalam upaya membangun dan mengembangkan perpustakaan, pemerintah desa seringkali terkendala oleh biaya. Padahal, program membangun dan mengembangkan perpustakaan tidak harus jadi sekali waktu (misal; langsung ada gedung dan koleksi di dalamnya), melainkan bisa dicicil menjadi program jangka panjang. Sehingga tidak terbebani oleh biaya yang sedikit. Sumber dana bagi perpustakaan desa adalah sebagai berikut:
• Memakai Dana Desa
Sebagaimana kita ketahui bahwa pemerintah pusat sudah menganjurkan agar desa menggunakan Dana Desa untuk membangun dan mengembangkan perpustakaan desa.
Memakai Dana APBDes.
• Memakai Dana CSR Perusahaan
Desa atau Kampung bisa mengajukan proposal permohonan bantuan dana CSR untuk kebutuhan belanja koleksi buku perpustakaan kepada perusahaan-perusahaan tertentu di wilayah kota/kabupaten tempat desa tersebut berada. Karena pada umumnya setiap perusahaan memiliki Dana CSR yang memang khusus disumbangkan ke lembaga-lembaga kemasyarakatan, termasuk lembaga perpustakaan desa.
• Memakai Dana Swadaya masyarakat
Guna menunjang budaya literasi untuk menunjang kesejahteraan, tentu masyarakat atau anggota dengan tingkat ekonomi menengah ke atas tidak akan keberatan menyumbangkan dana untuk kebutuhan belanja koleksi buku Perpustakaan Desa. Sehingga perlu diadakan penggalangan dana swadaya masyarakat desa. Kecerdasan masyarakat merupakan tangung jawab bersama jadi semua komponen masyarakat harus bertangungjawab dalam mendukung gerakan literasi masyarakat.
Walau pendanaan menjadi tantangan dalam mewujudkan ruang publik tersebut.
Kedua Keberadaan Perpustakaan yang Belum Dikenal Luas,
Banyaknya perpustakaan desa yang belum memiliki kegiatan kreatif dan inovatif (pengelolaan yang tidak profesional), membuat perpustakaan tak lebih dari sekadar pajangan semata sehingga tidak menarik dan tidak banyak dikenal oleh masyarakat sekitar.
Ketiga fasilitas Perpustakaan yang serba Terbatas,
Hal yang harus diperhatikan dalam perpustakaan desa adalah kelengkapan dan beragamnya koleksi buku, berikut fasilitas lain yang mendukung. Seperti tempat baca, fasilitas sirkulasi, dan sebagainya.
Keempat fasilitas Perpustakaan yang Serba Terbatas,
Perpustakaan perlu dikelola dengan baik dan rutin setiap harinya. Karena pada dasarnya, mengelola perpustakaan dibutuhkan keterampilan khusus yang bisa didapatkan melalui membaca buku-buku tentang ilmu perpustakaan dan manajemen perpustakaan. Sehingga dibutuhkan pustakawan profesional dan ulet agar perpustakaan berjalan dengan baik dan memiliki program kreatif yang dijalankan guna melayani pengunjungnya. Apabila belum ada pengelola yang benar-benar sarjana Ilmu Perpustakaan, bisa memanfaatkan relawan maupun para pemuda desa setempat untuk ikut serta menggerakkan literasi desa melalui perpustakaan desa.
Kelima Akses Informasi yang Relatif Sulit,
Akses informasi bisa terkait dengan akses kelengkapan koleksi, maupun informasi tentang program pemerintah dalam pengembangan perpustakaan desa. Maka dari itu, perlu bagi para penggerak dan pengelola perpustakaan memiliki komunitas yang mempertemukan antar pengelola perpustakaan dari berbagai desa, bahkan berbagai daerah di Indonesia.
Keenam cara Memanfaatkan dan Kegunaannya yang Belum Efektif,
Banyak sekali masyarakat yang belum mengetahui cara menjadi pemustaka, sehingga perlu bagi pengelola perpustakaan aktif dalam memberikan sosialisasi perihal kegunaan dan tata cara menggunakan layanan perpustakaan desa. Sosialisasi tersebut bisa melalui Pendidikan Pemustaka, lomba, festival literasi, hari kunjung perpustakaan desa, dan sebagainya.
Ketujuh pembinaan Perpustakaan Desa yang Belum Diselenggarakan dengan Baik,
Perpustakaan desa di Indonesia, bagaimanapun juga, hingga saat ini belum mendapatkan perhatian kaitannya dengan pembinaan perpustakaan desa dari pemerintah pusat. Karena sejauh ini, gerakan pemerintah pusat baru sampai pada ranah kebijakan dan belum ada pembimbingan langsung ke lapangan, khususnya ke masing-masing desa. Sehingga perlu diadakan tim pembimbingan khusus bagi desa-desa di masing-masing kabupaten/kota untuk membangun dan mengembangkan perpustakaan di desa masing-masing.
Kedelapan tenaga pengelolaan perpustakaan yang belum mumpuni,
Pengelola perpustakaan adalah tulang punggung dari pengelolaan perpustakaan yang sukses. Mereka bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang ramah dan membantu pengunjung menemukan informasi yang mereka butuhkan. Idealnya rekrutmen tenaga perpustakaan yang memiliki minat dalam pustakawan, pengalaman bekerja dengan masyarakat, dan pemahaman tentang pengelolaan informasi. Ikuti dan Berikan pelatihan yang komprehensif kepada pengelola untuk memastikan mereka terampil dalam tugas-tugas pustakawan, seperti katalogisasi, sirkulasi, dan layanan referensi. Dorong mereka untuk mengikuti perkembangan terkini dalam dunia perpustakaan, termasuk teknologi baru dan tren baru dalam pustakawan. Pengelola yang berpengetahuan luas dan berdedikasi akan menjadi aset berharga bagi perpustakaan desa/kampung. Harapan penulis jikalau pemerintah menerapkan rekrutmen satu kampung satu sarjana perpustakaan merupakan hal yang sangat baik dan mumpuni, Selain keterampilan teknis, pengelola perpustakaan juga harus memiliki karakter yang baik. Mereka harus sabar, ramah, dan bersedia membantu. Mereka adalah wajah perpustakaan dan bertanggung jawab menciptakan suasana yang ramah dan mengundang di mana masyarakat merasa nyaman untuk belajar dan membaca.
Kesembilan Manajemen Perpustakaan belum di Lakukan Secara Optimal,
Manajemen perpustakaan mencakup berbagai aspek, termasuk pengelolaan koleksi bahan buku dan materi lainnya, pelayanan pengguna, pengadaan dan pemeliharaan fasilitas perpustakaan, serta pengelolaan staf dan anggaran perpustakaan. Solusi yang dilakukan memperbanyak pelatihan-pelatihan tentang manajemen pengelolaan perpustakaan sehingga akan berdampak pada sistem manajemen administrasi pengelolaan perpustakaan yang baik dan penuh dengan solusi sehingga keberadaan perpustakaan desa atau kampung tahu jawaban dari kendala yang dihadapi.
Catatan tersebut dirangkum apa yang menurut penulis rasakan dan digali serta dikutip dari berbagai sumber yang menjadi landasan dalam merangkum resume tulisan yang penulis lakukan.
Tabik.
