Puisi Selat Hormuz dan Sepiring Harapan

Selat Hormuz dan Sepiring Harapan

Di bawah senja yang meluruh,
aku menanti adzan
sebagai napas terakhir hari yang letih,
sementara langit menggantungkan warna jingga
di ujung doa-doa yang lirih.

Tiga kurma kugenggam,
sederhana, manis, penuh makna
jawaban kecil atas haus yang panjang,
seperti rahmat yang turun perlahan
di bulan Ramadan yang teduh.

Namun di Timur yang jauh,
langit tak selalu setenang senja di kampungku.
Rudal-rudal terbang
seperti dendam yang tak sempat diredam kata,
memecah hening malam di langit Iran,
menggetarkan bumi yang sama
tempat kita bersujud.

Di Selat Hormuz,
harapan sesempit selat di antara dua daratan,
kapal-kapal melintas dengan cemas,
membawa minyak, membawa doa,
membawa tanya tentang esok
yang tak pernah benar-benar pasti.

Dan aku di sini
di antara adzan dan berita dunia,
memasukkan sunyi ke dalam bait,
menjahit luka yang tak kulihat
dengan kata-kata yang kupunya.

Kutadahkan kurma pertama
dengan basmalah yang gemetar,
seolah ingin berkata pada dunia:
bahwa manis sekecil ini
masih mampu mengalahkan getir.

Sebab di setiap berbuka,
Ramadan mengajarkan
bahwa di tengah api dan amarah manusia,
Tuhan tetap menurunkan damai
dalam genggaman yang sederhana.

13 Ramadhan 1447 H

:Aan Frimadona Roza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *