Marsidi Hasan dan Jalan Panjang Pengabdian bagi Way Kanan

Oleh Aan Frimadona Rozq bergiat di Rumah Baca Yussuf Baradatu


Salah satu tokoh terbaik Way Kanan adalah  Hi. Marsidi Hasan bukan sekadar seorang politikus, tetapi sosok pengayom masyarakat yang dikenal sederhana, dekat dengan rakyat, serta mampu menjembatani berbagai kalangan dengan sikapnya yang hangat dan bersahaja.

Lahir di Negeri Agung pada 25 Oktober 1956, Marsidi Hasan tumbuh dari akar masyarakat Way Kanan. Dari kampung halamannya itu, ia menapaki perjalanan panjang pengabdian yang kelak menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah pembangunan daerah. Karier politiknya bukan dibangun dengan gemerlap pencitraan, melainkan melalui kedekatan emosional dengan masyarakat dan konsistensi dalam memperjuangkan kepentingan daerah.

Dalam perjalanan pengabdiannya, Marsidi Hasan pernah dipercaya menjabat sebagai Wakil Bupati Way Kanan periode 2000–2005. Masa itu merupakan fase awal pembangunan dan penataan Kabupaten Way Kanan sebagai daerah otonom yang masih terus mencari bentuk kemajuan. Kehadirannya sebagai wakil kepala daerah bersama Bupati Way Kanan periode pertama  Drs.Hi. Tamanuri, M.M memberi warna tersendiri dalam proses pembangunan, terutama melalui pendekatan yang humanis dan komunikatif.

Tak berhenti di sana, kiprah politiknya terus berlanjut ketika ia dipercaya menjadi Ketua DPRD Kabupaten Way Kanan periode 2009–2014. Di lembaga legislatif, Marsidi Hasan dikenal sebagai figur yang mampu membangun komunikasi lintas kepentingan. Sikapnya yang tenang dan terbuka membuatnya dihormati, baik oleh rekan politik maupun masyarakat biasa. Ia memahami bahwa politik bukan semata perebutan kekuasaan, melainkan ruang pengabdian untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Pengabdiannya pun berlanjut sebagai Anggota DPRD Kabupaten Way Kanan periode 2014–2019. Meski telah lama berkecimpung di dunia politik, Marsidi Hasan tetap dikenal rendah hati. Banyak masyarakat mengenangnya sebagai sosok yang mudah ditemui, ringan senyum, dan tidak membangun jarak dengan siapa pun. Karakter inilah yang membuat dirinya dicintai oleh banyak kalangan.

Di mata insan pers, Marsidi Hasan juga meninggalkan kesan mendalam. Ia dikenal dekat dengan wartawan dan terbuka terhadap kritik maupun diskusi. Anggota PWI Kabupaten Way Kanan, Teddy Heriyanto, mengenang almarhum sebagai pribadi humoris yang menjalin hubungan persahabatan dengan media. Bagi Marsidi Hasan, media bukan sekadar alat publikasi, tetapi mitra dalam membangun daerah dan menyampaikan aspirasi masyarakat.
Kepergian Marsidi Hasan pada tahun 2025 menjadi duka mendalam bagi masyarakat Way Kanan. Jenazahnya disemayamkan di Bandar Lampung sebelum dimakamkan di kompleks makam keluarga di Kampung Negeri Agung tanah kelahirannya sendiri. Kepulangannya ke bumi Negeri Agung seolah menjadi simbol bahwa hidupnya memang tidak pernah jauh dari rakyat dan tanah kelahirannya.

Nama Marsidi Hasan akan selalu dikenang sebagai tokoh yang menghadirkan politik dengan wajah yang ramah dan membumi. Di tengah dinamika politik yang sering keras dan penuh kepentingan, ia menunjukkan bahwa ketulusan, kesederhanaan, dan kedekatan dengan masyarakat adalah nilai yang tidak pernah kehilangan makna.

Jejak pengabdian Hi. Marsidi Hasan bukan hanya tertulis dalam jabatan-jabatan yang pernah diembannya, tetapi juga dalam ingatan masyarakat Way Kanan yang pernah merasakan ketulusan pengabdiannya. Sosoknya menjadi pengingat bahwa seorang pemimpin sejati tidak hanya dikenang karena kekuasaan, tetapi karena keteladanan dan kedekatannya dengan rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *