Gelap Sesaat, Resah Berjam-Jam

Oleh: Aan Frimadona Roza, Bergiat di Rumah Baca Yussuf Baradatu.


Lampu padam mungkin hanya beberapa jam. Tetapi keresahan masyarakat sering terasa jauh lebih panjang.


Malam itu, langit Sumatra belum benar-benar larut ketika listrik mendadak menghilang serentak. Dari Aceh hingga Riau, dari kota besar sampai kecamatan kecil, suasana berubah cepat. Rumah-rumah gelap. Jalanan redup. Aktivitas mendadak tersendat. Media sosial pun seketika ramai oleh satu kalimat yang sama: “Di tempatmu mati lampu juga?”

PT PLN Persero menyampaikan adanya gangguan pada sistem kelistrikan Sumatra bagian Utara hingga Sumatra bagian Tengah. Penormalan dilakukan bertahap. Sebuah penjelasan yang memang penting, tetapi di lapangan masyarakat sudah lebih dulu merasakan dampaknya.

Di Baradatu, Way Kanan, pemadaman total membuat suasana kota seperti kehilangan denyutnya. Warung mulai tutup lebih cepat. Anak-anak berhenti belajar. Sebagian warga hanya duduk di teras rumah ditemani cahaya ponsel yang baterainya juga mulai menipis.
Sementara di Bandar Lampung, aku sempat singgah di sebuah ATM dekat rumah sakit tipe A. Ternyata mesin pengambilan uang ikut lumpuh. Layar eror. Antrean mulai terbentuk. Wajah pengunjung tampak campur aduk antara kesal, lelah, dan pasrah. Ironis memang, di zaman serba digital seperti sekarang, satu gangguan listrik mampu membuat banyak hal ikut berhenti.

Yang menarik, dalam kondisi gelap seperti itu, manusia justru kembali saling menyapa. Orang-orang yang tak saling kenal mendadak berbincang tentang listrik padam di lingkungan mereka. Ada yang bercanda, ada yang mengeluh, ada pula yang hanya tertawa kecil sambil berkata, “Semoga cepat nyala.”
Mungkin di situlah letak lucunya hidup modern. Kita baru benar-benar sadar betapa pentingnya listrik ketika semuanya mendadak hilang.

Namun masyarakat sebenarnya tidak menuntut kesempurnaan. Mereka paham gangguan teknis bisa terjadi. Yang sering membuat keadaan terasa menjengkelkan ialah ketika informasi lambat datang dan kepastian terasa jauh. Sebab bagi masyarakat kecil, listrik bukan lagi sekadar penerang rumah. Ia sudah menjadi napas aktivitas harian.

Mesin ATM butuh listrik. Sinyal internet butuh listrik. Pedagang butuh listrik. Rumah sakit, sekolah, bahkan pekerjaan rumah tangga kini bergantung pada aliran energi yang nyaris tak pernah kita pikirkan saat semuanya normal.
Karena itu, setiap pemadaman besar selalu meninggalkan pertanyaan yang sama: seberapa siap pelayanan publik menghadapi gangguan?
Gelap memang bisa dimaklumi. Tetapi keresahan yang dibiarkan terlalu lama, sering kali lebih melelahkan daripada padamnya lampu itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *