Oleh: Aan Frimadona Roza, Penggiat Rumah Baca Yussuf Baradatu.
Ada satu hal yang diam-diam berubah di banyak rumah hari ini. Lampu masih menyala. Televisi masih berbunyi. Internet mengalir tanpa henti. Namun percakapan dalam keluarga justru semakin pendek. Di ruang tamu, setiap orang sibuk menundukkan kepala, bukan untuk menghormati, melainkan menatap layar telepon genggamnya.
Di tengah kemajuan teknologi yang membawa banyak kemudahan, ada sesuatu yang perlahan menghilang: kehadiran seorang ayah.
Hari Keluarga Nasional 2026 mengangkat tema #AyahWajibHadir. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang besar. Sebab yang dibutuhkan anak bukan hanya ayah yang bekerja keras memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan ayah yang hadir dengan waktu, perhatian, telinga yang mau mendengar, dan hati yang mau memahami.
Fenomena fatherless bukan semata tentang anak yang kehilangan ayah karena perpisahan atau kematian. Lebih dari itu, ia juga hadir ketika seorang ayah ada di rumah, tetapi pikirannya selalu berada di tempat lain. Tubuhnya duduk di ruang keluarga, tetapi jiwanya tenggelam dalam pekerjaan, media sosial, atau urusan yang tak pernah selesai.
Anak-anak hari ini tumbuh dalam dunia yang berbeda. Mereka mengenal kecerdasan buatan sebelum mengenal banyak petuah. Mereka lebih cepat menemukan jawaban di internet daripada bertanya kepada orang tuanya. Jika ayah tidak hadir sebagai tempat bertanya, bukan tidak mungkin media sosial, konten digital, atau orang asinglah yang akan menjadi guru kehidupan mereka. Di sinilah tantangan terbesar keluarga masa kini. Teknologi tidak bisa dimusuhi. Ia adalah bagian dari zaman. Namun teknologi tidak boleh menggantikan pelukan, nasihat, candaan, dan keteladanan seorang ayah.
Di Lampung, kita mengenal filosofi piil pesenggiri yang menjunjung harga diri, tanggung jawab, dan kehormatan. Nilai itu sesungguhnya bermula dari keluarga. Seorang ayah bukan hanya pencari nafkah, melainkan penjaga nilai-nilai yang diwariskan kepada anak-anaknya. Dari caranya berbicara, bekerja, menghormati orang lain, hingga menghadapi kesulitan hidup, semua menjadi pelajaran yang tidak pernah diajarkan di sekolah.
Ibu memang menjadi tiang yang menguatkan rumah. Namun rumah akan semakin kokoh ketika ayah dan ibu berjalan beriringan. Ayah hadir, ibu menguatkan. Keduanya saling melengkapi dalam membesarkan generasi yang kelak memimpin Indonesia. Mungkin anak-anak tidak akan mengingat semua hadiah yang pernah diberikan ayahnya. Namun mereka akan selalu mengingat siapa yang menemani mereka belajar, mendengar cerita mereka sebelum tidur, hadir saat mereka gagal, dan memeluk mereka ketika dunia terasa tidak ramah.
Hari Keluarga bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa keluarga adalah sekolah pertama, dan ayah adalah salah satu guru utamanya. Barangkali, di tengah riuh notifikasi dan derasnya arus teknologi, yang paling dibutuhkan anak hari ini bukan gawai terbaru, melainkan suara ayah yang berkata, “Mari kita berbincang.”Karena sesungguhnya, masa depan anak tidak hanya dibangun oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kehangatan sebuah rumah. Maka sebelum senja benar-benar turun, sebelum anak-anak tumbuh mencari teladan di luar rumah, ada baiknya setiap ayah pulang. Bukan sekadar pulang ke alamat tempat tinggal, tetapi pulang ke hati keluarganya.
Sebab anak-anak tidak menunggu ayah yang sempurna. Mereka hanya menunggu ayah yang benar-benar hadir.Tabik.
