Oleh Aan Frimadona Roza, Anggota PGRI dan pengurus ICMI Orda Kabupaten Way Kanan .
Pendidikan kembali menjadi salah satu pesan penting dalam Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Jumat, 14 Agustus 2026. Pesannya cukup jelas: pembangunan manusia tidak boleh hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi. Pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan rumah layak harus berjalan bersama karena manusia adalah tujuan sekaligus kekuatan utama pembangunan.
Di bidang pendidikan, pemerintah menyampaikan sejumlah langkah besar. Program perbaikan sekolah disebut menjadi yang terbesar dalam sejarah Indonesia. Pada 2025, sebanyak 16.167 sekolah telah diperbaiki, sedangkan pada 2026 jumlahnya meningkat menjadi 71.744 sekolah.
Teknologi pembelajaran juga diperkuat melalui Interactive Flat Panel atau layar pintar. Pemerintah menargetkan setiap sekolah memiliki empat ruang kelas yang dilengkapi perangkat tersebut. Teknologi itu diharapkan dapat memperluas akses siswa terhadap pembelajaran sains, matematika, teknologi, hingga bahasa asing.
Di sisi lain, Sekolah Rakyat terus dikembangkan sebagai upaya membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Hingga kini disebut telah terdapat 93 Sekolah Rakyat permanen dan 182 jika digabung dengan sekolah rintisan.
Pesannya cukup jelas: pembangunan manusia tidak boleh hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi. Pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan penyediaan rumah layak harus berjalan beriringan, karena manusia adalah tujuan sekaligus kekuatan utama pembangunan.
Di bidang pendidikan, pemerintah menyampaikan sejumlah langkah besar. Program perbaikan sekolah disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah Indonesia. Pada 2025, sebanyak 16.167 sekolah telah diperbaiki, dan pada 2026 jumlahnya meningkat menjadi 71.744 sekolah. Teknologi pembelajaran juga diperkuat melalui Interactive Flat Panel atau layar pintar. Pemerintah menargetkan setiap sekolah memiliki empat ruang kelas yang dilengkapi perangkat tersebut. Teknologi ini diharapkan dapat memperluas akses siswa terhadap pembelajaran sains, matematika, teknologi, hingga bahasa asing.
Di sisi lain, Sekolah Rakyat terus dikembangkan sebagai upaya membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Hingga kini, tercatat 93 Sekolah Rakyat permanen dan 182 jika digabung dengan sekolah rintisan. Semua itu tentu membawa harapan. Namun, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak sekolah yang diperbaiki, berapa banyak layar yang dibagikan, atau berapa banyak sekolah yang dibangun. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah semua itu benar-benar mengubah kualitas manusia Indonesia?
Namun, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak sekolah yang diperbaiki, berapa banyak layar yang dibagikan, atau berapa banyak sekolah yang dibangun. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah semua itu benar-benar mampu meningkatkan kualitas manusia Indonesia?
Pendidikan Tidak Cukup Hanya dengan Gedung dan Teknologi
Kita tentu menyambut baik perbaikan sarana pendidikan. Sekolah yang layak akan membuat proses belajar lebih nyaman. Teknologi juga dapat membuka jendela pengetahuan yang jauh lebih luas. Tetapi pendidikan tidak berhenti pada bangunan dan perangkat.
Ada guru yang harus menghidupkan teknologi tersebut. Ada siswa yang harus dibimbing agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu berpikir kritis dan kreatif. Ada orang tua yang harus menjadi bagian dari proses pendidikan. Dan ada lingkungan sosial yang harus mendukung tumbuhnya karakter anak.
Kita tentu menyambut baik perbaikan sarana pendidikan. Sekolah yang layak akan membuat proses belajar lebih nyaman, sementara teknologi dapat membuka jendela pengetahuan yang jauh lebih luas.
Namun, pendidikan tidak berhenti pada bangunan dan perangkat. Ada guru yang harus menghidupkan teknologi tersebut. Ada siswa yang perlu dibimbing agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis dan kreatif. Ada orang tua yang harus terlibat dalam proses pendidikan. Dan ada lingkungan sosial yang harus mendukung tumbuhnya karakter anak.
Di sinilah tantangan pendidikan kita.
Kita sedang bergerak menuju pendidikan yang semakin digital, tetapi masih menghadapi persoalan klasik: kesenjangan kualitas guru, akses internet, budaya membaca yang belum kuat, kemampuan literasi dan numerasi yang belum merata, serta perbedaan kondisi sekolah antara daerah perkotaan dan daerah terpencil.
Kita sedang bergerak menuju pendidikan yang semakin digital, tetapi masih menghadapi persoalan klasik: kesenjangan kualitas guru, keterbatasan akses internet, budaya membaca yang belum kuat, kemampuan literasi dan numerasi yang belum merata, serta perbedaan kondisi sekolah antara daerah perkotaan dan daerah terpencil. Jangan sampai teknologi hadir lebih cepat daripada kesiapan manusianya.
Layar pintar boleh ada di kelas, tetapi yang membuat pembelajaran menjadi hidup tetaplah guru dan rasa ingin tahu peserta didik.
Layar pintar boleh hadir di kelas, tetapi yang membuat pembelajaran benar-benar hidup tetaplah guru dan rasa ingin tahu peserta didik.
Tantangan Terbesar Adalah Kualitas Manusia
Pembangunan SDM sesungguhnya merupakan pekerjaan jangka panjang. Membangun gedung bisa dihitung dalam bulan. Membeli perangkat bisa dihitung dalam anggaran. Tetapi membangun karakter, kecerdasan, budaya membaca, kedisiplinan, kreativitas, dan kemampuan berpikir membutuhkan waktu bertahun-tahun. Karena itu, arah pendidikan nasional perlu dijaga agar tidak hanya berorientasi pada program yang mudah terlihat hasilnya. Yang lebih penting adalah memastikan anak-anak Indonesia memiliki kemampuan dasar yang kuat: membaca, memahami informasi, berhitung, berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, berkarakter, serta mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Penguasaan bahasa asing sebagaimana disampaikan Presiden juga penting. Namun, kemampuan berbahasa asing harus berjalan bersama dengan penguasaan bahasa Indonesia dan akar budaya sendiri. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) sesungguhnya merupakan pekerjaan jangka panjang.
Membangun gedung dapat dihitung dalam hitungan bulan. Membeli perangkat dapat diukur dari anggaran. Namun, membangun karakter, kecerdasan, budaya membaca, kedisiplinan, kreativitas, dan kemampuan berpikir membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Karena itu, arah pendidikan nasional perlu dijaga agar tidak semata-mata berorientasi pada program yang cepat terlihat hasilnya.
Yang lebih penting adalah memastikan anak-anak Indonesia memiliki kemampuan dasar yang kuat: membaca, memahami informasi, berhitung, berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, berkarakter, serta mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Penguasaan bahasa asing sebagaimana disampaikan Presiden juga penting. Namun, hal tersebut harus berjalan seiring dengan penguasaan bahasa Indonesia dan penguatan akar budaya sendiri. Kita ingin melahirkan generasi yang mampu berdiri di panggung dunia tanpa kehilangan jati dirinya.
Ketidakmampuan Tidak Boleh Menjadi Warisan
Ada satu gagasan penting dalam pidato Presiden yang patut direnungkan ketidakmampuan tidak boleh menjadi warisan. Kesempatanlah yang harus diwariskan.
Kalimat tersebut sesungguhnya menyentuh inti persoalan pendidikan. Anak yang lahir dari keluarga kurang mampu harus tetap memiliki kesempatan untuk menjadi dokter, guru, insinyur, ilmuwan, pengusaha, pemimpin, atau profesi apa pun yang sesuai dengan potensinya.
Ada satu gagasan penting dalam pidato Presiden yang patut direnungkan: ketidakmampuan tidak boleh menjadi warisan, melainkan kesempatanlah yang harus diwariskan. Pernyataan ini menyentuh inti persoalan pendidikan. Anak yang lahir dari keluarga kurang mampu harus tetap memiliki kesempatan untuk menjadi dokter, guru, insinyur, ilmuwan, pengusaha, pemimpin, atau profesi apa pun sesuai potensinya.Pendidikan harus menjadi jalan keluar dari kemiskinan, bukan justru memperkuat kesenjangan. Karena itu, Sekolah Rakyat dan berbagai program afirmasi pendidikan perlu dikawal bukan hanya dari sisi jumlah, tetapi juga kualitas. Jangan sampai anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan pendidikan yang berbeda kualitasnya dengan anak-anak dari keluarga mampu.
Keadilan pendidikan bukan berarti semua anak mendapatkan sesuatu yang sama, tetapi setiap anak mendapatkan kesempatan yang layak untuk berkembang.Karena itu, Sekolah Rakyat dan berbagai program afirmasi pendidikan perlu dikawal, tidak hanya dari sisi jumlah, tetapi juga kualitas. Jangan sampai anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh pendidikan dengan kualitas yang berbeda dari anak-anak dari keluarga mampu. Keadilan pendidikan bukan berarti semua anak mendapatkan hal yang sama, tetapi setiap anak memperoleh kesempatan yang layak untuk berkembang.
Rintangan Kita Masih Panjang arah pembangunan pendidikan hari ini sebenarnya memberikan harapan. Namun, jalan menuju SDM Indonesia yang unggul masih panjang. Rintangannya bukan hanya persoalan anggaran. Ada persoalan budaya belajar, kualitas pembelajaran, kesejahteraan dan kompetensi guru, beban administrasi, ketimpangan antardaerah, keterlibatan keluarga, penggunaan teknologi yang sehat, hingga derasnya informasi yang belum tentu mendidik.
9Arah pembangunan pendidikan saat ini memberikan harapan. Namun, jalan menuju SDM Indonesia yang unggul masih panjang.
Rintangannya tidak hanya soal anggaran.
Ada persoalan budaya belajar, kualitas pembelajaran, kesejahteraan dan kompetensi guru, beban administrasi, ketimpangan antardaerah, keterlibatan keluarga, penggunaan teknologi yang sehat, hingga derasnya arus informasi yang belum tentu mendidik.
Anak-anak kita hidup dalam dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya belajar dari guru dan buku, tetapi juga dari YouTube, TikTok, media sosial, gim, dan berbagai sumber digital. Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana memilih informasi, bagaimana berpikir, bagaimana bersikap, dan bagaimana menggunakan pengetahuan untuk kehidupan.Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana memilih informasi, bagaimana berpikir, bagaimana bersikap, dan bagaimana menggunakan pengetahuan untuk kehidupan.
Dari Sekolah, Kita Menanam Masa Depan
Sebagai seorang pendidik, saya melihat bahwa pembangunan pendidikan pada akhirnya kembali kepada ruang-ruang kelas.
Sebagai seorang pendidik, saya melihat bahwa pembangunan pendidikan pada akhirnya kembali ke ruang-ruang kelas. Di sanalah kebijakan negara bertemu dengan kenyataan.
Di ruang kelas ada guru dengan segala keterbatasannya. Ada anak-anak dengan latar belakang keluarga yang berbeda. Ada sekolah dengan fasilitas yang tidak selalu sama. Tetapi di ruang yang sederhana itu pula masa depan bangsa sedang ditanam. Karena itu, memperbaiki sekolah harus dibarengi dengan memperkuat gurunya. Menghadirkan teknologi harus dibarengi dengan meningkatkan kemampuan gurunya. Membuka akses pendidikan harus dibarengi dengan memastikan kualitasnya.
Di ruang kelas ada guru dengan segala keterbatasannya. Ada anak-anak dengan latar belakang keluarga yang berbeda. Ada sekolah dengan fasilitas yang tidak selalu sama. Namun di ruang yang sederhana itu pula masa depan bangsa sedang ditanam. Karena itu, memperbaiki sekolah harus dibarengi dengan memperkuat guru. Menghadirkan teknologi harus dibarengi dengan meningkatkan kompetensi guru. Membuka akses pendidikan harus dibarengi dengan memastikan kualitasnya. Sebab pendidikan bukan sekadar proyek pembangunan.
Pendidikan adalah investasi peradaban.
Pidato kenegaraan hari ini memberi kita optimisme bahwa pembangunan manusia ditempatkan sebagai bagian penting dari masa depan Indonesia. Tetapi optimisme itu harus diterjemahkan menjadi kerja nyata yang konsisten dan berkelanjutan. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan sekadar berapa banyak sekolah yang berdiri atau berapa banyak perangkat yang terpasang.
Ukuran yang paling penting adalah berapa banyak anak Indonesia yang tumbuh menjadi manusia yang berilmu, berkarakter, mandiri, sehat, kreatif, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan. Pendidikan adalah investasi peradaban. Pidato kenegaraan ini memberi optimisme bahwa pembangunan manusia ditempatkan sebagai bagian penting dari masa depan Indonesia. Namun, optimisme tersebut harus diwujudkan dalam kerja nyata yang konsisten dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan sekadar berapa banyak sekolah yang berdiri atau perangkat yang terpasang. Ukuran yang paling penting adalah berapa banyak anak Indonesia yang tumbuh menjadi manusia berilmu, berkarakter, mandiri, sehat, kreatif, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan. Sebab sekolah hari ini bukan hanya tempat anak-anak belajar. Sekolah adalah tempat sebuah bangsa menentukan seperti apa wajah masa depannya. Sekolah adalah tempat sebuah bangsa menentukan seperti apa wajah masa depannya.
