Aan Frimadona Roza, Anggota PGRI Kabupaten Way Kanan
Purbaya Yudhi Sadewa sudah meninggalkan kursi Menteri Keuangan. Pada 14 September 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru. Sehari kemudian, Purbaya secara resmi menyerahkan jabatan tersebut kepada penggantinya. Pergantian menteri adalah bagian dari dinamika pemerintahan. Jabatan bisa datang dan pergi, nama bisa berganti. Namun, bagi guru, ada satu hal yang menarik untuk dikenang dari perjalanan Purbaya sebagai Menteri Keuangan.
Ada kejadian menarik bagi saya ketika saat itu saya menyaksikan pada stasiun TV nasional di acara momen acara peringatan Hari Guru Nasional tahun 2025 yang pada saat itu adanya tepuk tangan guru bergemuruh ketika nama mentri keuangan bapak Purbaya disebut. Momen yang terjadi dalam peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Indonesia Arena, Jakarta. Ketika nama Purbaya disebut, para guru yang hadir memberikan sambutan tepuk tangan yang cukup meriah. Tentu, tepuk tangan itu tidak bisa dianggap sebagai suara seluruh guru Indonesia. Itu bukan hasil survei dan tidak dapat dijadikan ukuran bahwa semua guru mempunyai pandangan yang sama. Tetapi sebagai sebuah peristiwa, tepuk tangan tersebut menarik untuk direnungkan. Mengapa? Karena bagi guru, Menteri Keuangan bukan sekadar pejabat yang berbicara tentang APBN, pajak, penerimaan negara, atau angka-angka ekonomi. Kebijakan Menteri Keuangan bisa bersentuhan langsung dengan kehidupan guru: gaji, tunjangan, THR, gaji ke-13, pembangunan sekolah, sarana pendidikan, hingga berbagai program pemerintah untuk dunia pendidikan.
Guru mungkin tidak setiap hari membaca dokumen APBN. Tetapi guru tahu ketika haknya masuk ke rekening. Guru tahu ketika tunjangan dibayarkan. Guru tahu ketika fasilitas sekolah bertambah. Guru juga tahu ketika sebuah kebijakan membuat kehidupan mereka sedikit lebih ringan. Guru merasakan negara bukan hanya dari pidato, tetapi dari kebijakan yang sampai kepada mereka.
Pada masa Purbaya, misalnya, Kementerian Keuangan menambah Dana Alokasi Umum sebesar Rp7,66 triliun untuk mendukung pembayaran THR dan gaji ke-13 bagi guru ASN daerah yang memenuhi ketentuan. Bagi pemerintah, itu adalah angka dalam dokumen anggaran. Tetapi bagi seorang guru, angka tersebut dapat berubah menjadi kebutuhan keluarga yang terpenuhi, biaya pendidikan anak yang terbantu, atau sedikit ketenangan dalam menjalani kehidupan. Karena itu, ketika nama Purbaya mendapat tepuk tangan dari para guru, kita tidak harus buru-buru menerjemahkannya sebagai dukungan politik. Bisa saja tepuk tangan itu merupakan respons terhadap kebijakan yang mereka rasakan atau setidaknya mereka anggap berkaitan dengan kepentingan guru.Setiap guru tentu memiliki pengalaman dan penilaian masing-masing.
Kini situasinya sudah berubah. Purbaya tidak lagi berada di kursi Menteri Keuangan. Suahasil Nazara telah menerima tanggung jawab tersebut. Pergantian itu adalah keputusan Presiden dalam menjalankan pemerintahan.
Maka pertanyaan yang lebih penting bagi guru bukan lagi mengapa Purbaya diganti. Pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari justru: Setelah Purbaya pergi, bagaimana nasib kebijakan yang menyentuh guru? Apakah perhatian terhadap kesejahteraan guru akan terus dijaga? Apakah hak-hak guru akan semakin mudah dan tepat waktu diterima?Apakah sekolah-sekolah di daerah akan mendapatkan dukungan anggaran yang memadai? Dan apakah kebijakan fiskal pemerintah akan terus menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kini menjadi bagian dari pekerjaan pemerintah dan Menteri Keuangan yang baru.
Sebab guru tidak membutuhkan pejabat yang hanya dikenang ketika namanya disebut di atas panggung. Guru membutuhkan kebijakan yang terasa ketika mereka kembali ke sekolah. Tepuk tangan hanya berlangsung beberapa detik.
Tetapi kebutuhan guru berlangsung setiap hari.
Guru tetap masuk kelas, mengajar, menyiapkan pembelajaran, menghadapi berbagai persoalan sekolah, memikirkan keluarga, dan menjalankan pengabdian dalam kondisi yang tidak selalu mudah.
Karena itu, mungkin inilah makna paling sederhana dari tepuk tangan guru kepada Purbaya: bukan semata-mata tentang seorang pejabat, tetapi tentang harapan agar kebijakan negara benar-benar memperhatikan kehidupan guru. Purbaya sudah pergi. Kursinya sudah ditempati orang lain. Tetapi tepuk tangan itu meninggalkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih panjang daripada masa jabatan seorang menteri:
Ketika tepuk tangan berhenti, apakah kebijakan untuk guru tetap berjalan? Sebagai seorang guru, saya melihat bahwa penghargaan paling bermakna bukanlah tepuk tangan yang terdengar sesaat, melainkan kebijakan yang benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari. Sebab guru tidak hidup dari tepuk tangan.
Guru hidup dari kerja, pengabdian, dan kepastian bahwa negara menghargai pekerjaan mereka melalui kebijakan yang nyata. Jabatan boleh berganti. Menteri boleh berganti. Tetapi harapan guru terhadap kebijakan yang memperhatikan kehidupan mereka tidak boleh ikut berganti.
