Resensi Buku Kitab Jurnalisme (dari) Lampung: Jejak Pengalaman, Etika, dan Tanggung Jawab Wartawan
Identitas buku
Judul: Kitab Jurnalisme (dari) Lampung
Penulis: Juwendra Asdiansyah
Pengantar: Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.
Penerbit: BumiBima Publisher, Bandar Lampung
Cetakan: Pertama, Agustus 2026
Ukuran: 12 × 19 cm
Tebal: vi + 362 halaman
Di tengah derasnya arus informasi, ketika berita berkejaran dengan waktu dan media sosial sering kali lebih cepat daripada proses verifikasi, jurnalisme menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Wartawan bukan sekadar orang yang menyampaikan kabar. Ia memikul tanggung jawab untuk mencari kebenaran, menjaga akurasi, dan menghadirkan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Di tengah tantangan itulah buku Kitab Jurnalisme (dari) Lampung karya Juwendra Asdiansyah menemukan relevansinya. Buku ini bukan sekadar membicarakan dunia pers, melainkan juga mengajak pembaca menengok kembali nilai-nilai yang seharusnya menjadi fondasi profesi kewartawanan.
Diterbitkan oleh BumiBima Publisher, Bandar Lampung, buku ini menjadi penanda bahwa Lampung memiliki ruang penting dalam percakapan mengenai jurnalisme, etika pers, dan masa depan media. Melalui pengalaman panjang penulisnya, pembaca diajak memahami bahwa jurnalisme bukan hanya soal menulis berita, tetapi juga tentang keberanian, ketekunan, dan kesediaan mempertanggungjawabkan setiap kata yang dipublikasikan.
Juwendra Asdiansyah bukan sosok yang datang ke dunia jurnalistik hanya untuk mengejar profesi. Jejaknya berawal dari aktivisme pers mahasiswa di Universitas Lampung pada era 1990-an. Ia terlibat dalam Teknokra dan Pilar Ekonomi, bahkan dipercaya memimpin kedua lembaga tersebut.
Pengalaman itu menjadi fondasi perjalanan panjangnya di dunia pers. Karier jurnalistiknya melintasi berbagai media, mulai dari tabloid Sumber sebagai redaktur senior pada 1998, majalah INDIE sebagai pemimpin redaksi pada 2003–2004, Seputar Indonesia di bawah MNC Group pada 2005–2009, hingga Tribun Lampung di bawah Kompas Gramedia pada 2009–2013, tempat ia menjalani tugas sebagai redaktur hingga redaktur pelaksana.
Perjalanan itu berlanjut di Saibumi.com dan duajurai.co, masing-masing dengan tanggung jawab kepemimpinan redaksi, sebelum ia memimpin redaksi Forum Keadilan pada September 2022 hingga Maret 2023.
Rangkaian pengalaman tersebut memberikan latar yang kuat bagi pembahasan tentang dunia jurnalistik. Jurnalisme tidak hanya dipahami dari bangku pelatihan atau teori di ruang kelas, tetapi juga dari pengalaman menghadapi narasumber, mengolah fakta, memimpin ruang redaksi, serta menentukan bagaimana sebuah peristiwa disampaikan kepada publik.
Jurnalisme Bukan Sekadar Merangkai Kata
Salah satu hal penting yang dapat direnungkan dari perjalanan Juwendra ialah bahwa keterampilan jurnalistik harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral.
Berita yang menarik belum tentu benar. Tulisan yang ramai dibagikan belum tentu memberikan pemahaman yang utuh. Bahkan, informasi yang tampak meyakinkan tetap harus diuji melalui verifikasi dan keberimbangan.
Di sinilah nilai sebuah buku jurnalistik menjadi penting. Pembaca tidak cukup hanya belajar membuat judul yang menarik atau menyusun kalimat yang enak dibaca. Lebih dari itu, seorang wartawan perlu memahami mengapa suatu informasi layak diberitakan, bagaimana fakta diperiksa, siapa saja yang perlu didengar, dan apa dampak pemberitaan terhadap masyarakat. Pengalaman Juwendra dalam berbagai media dan pelatihan jurnalistik memberikan konteks yang relevan untuk membicarakan persoalan tersebut. Sebagai mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung periode 2007–2010, ia juga memiliki pengalaman dalam lingkungan organisasi profesi yang menempatkan independensi dan etika sebagai bagian penting kehidupan pers.
Jurnalisme yang sehat tidak lahir hanya dari kecakapan teknis. Ia membutuhkan integritas, keberanian untuk mengoreksi kesalahan, dan kesadaran bahwa kepercayaan publik merupakan sesuatu yang harus dijaga.
Dari Lampung, Menyapa Dunia Pers Indonesia
Meski membawa nama Lampung dalam judulnya, buku ini memiliki ruang pembicaraan yang lebih luas daripada batas geografis sebuah provinsi.
Juwendra telah mengajar materi jurnalistik di berbagai kota, antara lain Medan, Pekanbaru, Padang, Palembang, Bandung, Tasikmalaya, dan Semarang. Pengalamannya menunjukkan bahwa kebutuhan akan jurnalisme yang berkualitas bukan hanya milik kota-kota besar atau perusahaan media nasional. Media lokal, pers mahasiswa, komunitas literasi, dan warga yang terlibat dalam penyebaran informasi juga menghadapi tantangan yang serupa.
Jurnalisme lokal memiliki kedudukan penting karena berdekatan dengan kehidupan masyarakat. Banyak persoalan pendidikan, pelayanan publik, kebudayaan, lingkungan, dan pembangunan daerah justru pertama kali dikenal masyarakat melalui media lokal.
Karena itu, kualitas jurnalisme daerah turut menentukan kualitas percakapan publik di tingkat lokal. Berita yang akurat dapat membantu masyarakat memahami persoalan. Sebaliknya, informasi yang tidak teruji dapat memperkeruh keadaan dan mengikis kepercayaan.
Buku Kitab Jurnalisme (dari) Lampung dapat dibaca sebagai penegasan bahwa pengalaman daerah pun memiliki sesuatu untuk disumbangkan kepada perkembangan pers Indonesia. Gagasan, praktik, dan refleksi jurnalistik tidak harus selalu datang dari pusat. Lampung juga dapat menjadi tempat lahirnya pemikiran dan gerakan untuk merawat profesionalisme pers.
Pengalaman, Pelatihan, dan Disiplin Berpikir
Dimensi lain yang menarik dari perjalanan Juwendra ialah keterlibatannya dalam Kursus Jurnalisme Sastrawi V yang diselenggarakan Yayasan Pantau pada 2004. Kursus tersebut menghadirkan Janet Steele, guru besar jurnalisme di George Washington University, Amerika Serikat, sebagai pengajar utama.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa dunia jurnalistik terus berkembang melalui proses belajar, perjumpaan gagasan, dan latihan yang berkelanjutan. Wartawan tidak boleh berhenti belajar hanya karena telah memiliki jam terbang tinggi.
Hal serupa terlihat dari kiprahnya sebagai moderator 35 debat pemilihan kepala daerah, termasuk debat kandidat gubernur dan wakil gubernur Lampung pada 2018 dan 2024. Pengalaman tersebut berkaitan erat dengan kemampuan mendengar, menyusun pertanyaan, menjaga alur diskusi, dan memastikan gagasan dapat disampaikan dengan jelas.
Kini, selain berkiprah dalam dunia jurnalistik, Juwendra juga menjadi pelatih public speaking privat bagi sejumlah tokoh publik dan profesional. Berbagai pengalaman tersebut memperlihatkan hubungan antara jurnalistik dan komunikasi publik. Keduanya memerlukan ketepatan memilih kata, kemampuan membaca persoalan, kecermatan memahami konteks, serta tanggung jawab terhadap pesan yang disampaikan.
Setelah kembali ke Lampung, Juwendra mendirikan Bengkel Jurnalisme dan memperkenalkan konsep Sembilan Elemen Jurnalisme, yang disadur dari buku The Elements of Journalism karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Sembilan elemen tersebut dikenal luas sebagai prinsip dasar untuk memahami tanggung jawab pers. Di antaranya adalah kewajiban pertama jurnalisme terhadap kebenaran, loyalitas kepada warga, disiplin verifikasi, independensi terhadap pihak yang diliput, serta komitmen untuk menyampaikan informasi secara komprehensif dan proporsional.
Prinsip-prinsip tersebut penting untuk terus diperbincangkan, terutama ketika batas antara berita, opini, promosi, dan informasi yang belum terverifikasi semakin mudah kabur.
Bagi wartawan, prinsip tersebut merupakan pengingat bahwa kecepatan tidak boleh mengalahkan ketelitian. Bagi pengelola media, ia menjadi dasar untuk membangun budaya redaksi yang bertanggung jawab. Sementara bagi masyarakat, pemahaman tentang jurnalisme dapat membantu membedakan informasi yang layak dipercaya dari kabar yang perlu diperiksa kembali.
Kehadiran Bengkel Jurnalisme juga dapat dipahami sebagai upaya membangun ruang belajar. Kompetensi jurnalistik tidak cukup diwariskan melalui pengalaman pribadi. Ia perlu dibagikan, didiskusikan, dan terus diuji melalui praktik.
Relevansi bagi Pendidikan dan Gerakan Literasi
Buku ini juga membuka ruang refleksi bagi dunia pendidikan dan komunitas literasi.
Sekolah, perpustakaan, rumah baca, serta organisasi kepemudaan dapat menjadi tempat untuk menumbuhkan kecakapan memahami informasi. Peserta didik perlu dibiasakan membaca secara kritis, memeriksa sumber, membedakan fakta dari pendapat, dan menyampaikan gagasan tanpa merugikan orang lain.
Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga menyangkut kemampuan menilai informasi dan memahami konsekuensi ketika sebuah kabar disebarluaskan.
Dalam konteks tersebut, nilai-nilai jurnalisme dapat menjadi bagian penting pendidikan karakter. Kejujuran dalam menulis, ketelitian memeriksa sumber, keberanian mengakui kekeliruan, dan penghormatan terhadap perbedaan merupakan kebiasaan yang perlu dibangun sejak dini.
Bagi komunitas literasi, gagasan tentang jurnalisme juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengembangkan kegiatan menulis berita, mengelola buletin, mendokumentasikan kegiatan masyarakat, dan menyuarakan persoalan lingkungan sekitar secara bertanggung jawab.
Dengan demikian, jurnalisme tidak semata-mata menjadi urusan wartawan profesional. Nilai-nilai dasarnya dapat dipelajari oleh siapa pun yang ingin berpartisipasi dalam ruang informasi publik.
Salah satu daya tarik utama buku ini terletak pada rekam jejak penulisnya. Pengalaman di pers mahasiswa, ruang redaksi media lokal dan nasional, organisasi profesi, pelatihan jurnalistik, hingga moderasi debat memberikan landasan praktis bagi pembicaraan tentang dunia pers. Kehadiran pengantar dari Prof. Dr. Sudjarwo, M.S. turut menambah dimensi akademik pada penerbitan buku ini.
Namun, buku jurnalistik juga akan semakin bermanfaat apabila dibaca secara kritis dan dialogis. Pembaca dapat menghubungkan gagasan yang disampaikan dengan perubahan ekosistem media, perkembangan jurnalisme digital, tantangan verifikasi informasi, dan persoalan independensi redaksi pada masa kini. Karena informasi yang tersedia dalam bahan resensi ini terutama memuat identitas penulis dan perjalanan profesionalnya, pembahasan isi buku perlu diperdalam melalui pembacaan langsung terhadap bab-babnya. Dengan cara itu, penilaian terhadap argumentasi, contoh kasus, gaya penulisan, dan kekuatan setiap pembahasan dapat dilakukan secara lebih terukur.
Catatan tersebut bukan mengurangi arti penting buku ini. Sebaliknya, hal itu menegaskan bahwa membaca buku jurnalistik seharusnya menjadi proses aktif: menerima gagasan, mengujinya, lalu menghubungkannya dengan kenyataan yang dihadapi pers.
Kitab Jurnalisme (dari) Lampung hadir dengan latar pengalaman seorang jurnalis yang menempuh perjalanan panjang dari pers mahasiswa hingga ruang redaksi profesional. Jejak tersebut memberi konteks bagi pembaca untuk memahami jurnalisme sebagai profesi yang menuntut keterampilan, disiplin, dan tanggung jawab
Di tengah dunia yang semakin ramai oleh informasi, pers membutuhkan lebih dari sekadar kecepatan. Pers membutuhkan keberanian untuk memeriksa fakta, kerendahan hati untuk mengoreksi kesalahan, dan keteguhan untuk menjaga independensi.
Dari Lampung, pesan itu layak dibawa ke ruang redaksi, ruang kelas, perpustakaan, rumah baca, dan ruang percakapan masyarakat. Sebab, pada akhirnya, ukuran penting jurnalisme bukan hanya seberapa cepat sebuah berita sampai kepada pembaca, melainkan seberapa jauh berita itu membantu masyarakat memahami kenyataan.
Kebenaran mungkin tidak selalu menjadi kabar yang paling cepat. Namun, tanpa kesetiaan kepada kebenaran, jurnalisme akan kehilangan alasan terpenting bagi kehadirannya.
Oleh Aan Frimadona Roza, Bergiat di Rumah Baca Yussuf Baradatu.
