Di era digital yang serba cepat ini, di mana informasi bertebaran di ujung jari sekali tekan akan bermunculan apa yang kita inginkan, buku tetap memegang peranan penting. Buku bukan sekadar kumpulan kata, bukan sekedar catatan, bukan pula penghibur di kala duka, dan bukan pula sekedar penghibur lara, tetapi jendela menuju pengetahuan, imajinasi, dan inspirasi tak terbatas. Mari kita lestarikan budaya membaca dan hargai keajaiban yang tersimpan di balik setiap halaman buku, karena di sanalah kita menemukan kedalaman makna dan keindahan bahasa yang tak tergantikan oleh teknologi dan kecanggihan dunia.
Selamat membaca!📘( Buku, Nurlelawati)
Demikian bait prosa di halaman Facebook karya ibu Nurlelawati Srikandi relawan literasi, pendiri dan inisiator Taman Baca Masyarakat (TBM) SN Perpusdes Kampung Way Pisang Kecamatan Way Tuba Kabupaten Way Kanan. Nurlelawati yang berprofesi sebagai tenaga pendidik pada sekolah dasar berkomitmen membangun gerakan literasi di Kampungnya. Beliau menempelkan ruang publik sederhana sebagai perpustakaan yang layak dan nyaman bagi masyarakat untuk membaca koleksi buku perpustakaan yang tersedia di TBM Mandiri SN Perpusdes Way Pisang Kecamatan Way Tuba.
Tamu yang kerap mendatangi TBM SN Perpusdes Way Pisang kebanyakan adalah anak- anak pelajar dari jenjang pendidikan Paud,SD,SMP,SMA bahkan mahasiswa yang datang mencari modul dalam mengerjakan tugas kuliah sebab ada Pokjar Universitas Terbuka di kecamatan tmpat berdiri perpustakaan ibu Nurlelawati.
Buku-buku yang didapatnya sebagai koleksi perpustakaan bersumber dari buku miliknya pribadi, donasi buku dari keluarga,sahabat bahkan lembaga pendidikan yang memiliki kepedulian terhadap gerakan literasi yang dicanangkan pemerintah. Ada juga bantuan dari pemerintah, lembaga literasi dan sesama relawan liteasi yang mewadahi TBM di Kabupaten Way Kanan. Buku bertema cerita anak menempatkan catatan yang paling banyak dari daftar buku kunjungan yang sering dibaca oleh tamu yang berkunjung di perpustakaan nya. Tetapi ada juga masyarakat orang tua yang berkunjung secara rutin keperpustakaan walau sekedar melihat gambar dan nongkrong ngopi bersama warga lainya sambil ngobrol-ngobrol.
Dengan menyelaraskan fungsi perpustakaan dengan kebutuhan masyarakat modern saat ini ibu Nurlelawati dapat menciptakan nilai nyata bagi masyarakat. Kegiatan yang memberikan manfaat langsungpun pernah dilakukan nya dengan mengemas kopi bubuk miliknya yang diberi nama “Kopi Literasi” yang diharapkan meningkatnya ekonomi keluarga tapi sesaat akibat belum terorganisir dengan baik.
Kegagalan itu mungkin disebabkan keterampilan dalam atau akses ke pasar belum mampu berkerja dengan baik.
Komitmen Nurlelawati pendiri TBM SN Mandiri Perpusdes Way Pisang kedepannya bahwa keberadaan perpustakaanya dapat menjadi ruang publik sebagai solusi atas tantangan ekonomi masyarakat, sekaligus menegaskan peran perpustakaan di era modern. Tercipta nya program Kegiatan-kegiatan di TBM SN Perpusdes Way Pisang nantinya tidak hanya meningkatkan daya tarik perpustakaan, tetapi juga memperluas fungsi utamanya. Dengan kolaborasi kreatif bersama komunitas, perpustakaan dapat menjadi pusat aktivitas yang relevan bagi semua kalangan masyarakat.
