Senyum, Pengabdian, dan Keteladanan Drs. Hi. Tamanuri, M.M. untuk Way Kanan

Oleh Aan Frimadona Roza, Penggiat Rumah Baca Yussuf Baradatu

Kabupaten Way Kanan hari ini telah tumbuh menjadi salah satu daerah yang terus berkembang di Provinsi Lampung. Jalan-jalan penghubung antarwilayah mulai terbuka, pusat pemerintahan berdiri, pelayanan publik semakin tertata, dan roda pembangunan terus bergerak. Namun di balik perjalanan itu, ada satu nama yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah lahir dan tumbuhnya Way Kanan, yakni Drs. H. Tamanuri, M.M..

Tamanuri bukan sekadar mantan pejabat daerah. Ia adalah sosok perintis yang hadir pada masa-masa awal berdirinya Way Kanan, ketika daerah ini masih penuh keterbatasan dan membutuhkan pemimpin yang mampu membangun pondasi pemerintahan sekaligus harapan masyarakat.

Perjuangan lahirnya Way Kanan sendiri bukan proses yang mudah. Berkat kegigihan berbagai tokoh dan masyarakat, akhirnya pada 20 April 1999 pemerintah pusat menerbitkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Way Kanan. Kemudian pada 27 April 1999, Menteri Dalam Negeri saat itu, Syarwan Hamid, meresmikan Kabupaten Way Kanan sekaligus melantik Tamanuri sebagai Penjabat Bupati pertama. Sejak saat itulah sejarah baru dimulai.

Sebagai daerah pemekaran baru, Way Kanan kala itu menghadapi banyak tantangan. Infrastruktur masih terbatas, akses antarwilayah belum memadai, dan sistem birokrasi pemerintahan masih harus dibangun dari awal. Dalam kondisi seperti itulah Tamanuri hadir memimpin.

Pengalaman panjangnya sebagai birokrat membuatnya memahami bagaimana membangun daerah secara bertahap namun terarah. Ia bukan pemimpin yang lahir secara instan dari dunia politik, melainkan seorang aparatur pemerintahan yang meniti karier dari bawah. Pengalaman itu membentuk karakter kepemimpinannya yang tenang, sederhana, tetapi penuh keteguhan dalam bekerja.
Pendidikan menjadi salah satu pondasi penting dalam perjalanan hidupnya. Tamanuri menempuh pendidikan dasar di SD Ketapang, Lampung, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 2 Bandar Lampung dan SMA Negeri 1 Bandar Lampung. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan di APDN Tanjung Karang dan lulus pada tahun 1976. Semangat belajarnya tidak berhenti meski telah menjadi pejabat daerah. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen di STIA LAN pada tahun 2004.

Latar pendidikan dan pengalaman birokrasi itulah yang membuat Tamanuri mampu membaca kebutuhan Way Kanan di masa awal pembangunan. Fokus utamanya saat itu adalah membangun infrastruktur dasar. Jalan penghubung antarwilayah, sarana pemerintahan, hingga fasilitas pelayanan masyarakat mulai dibangun secara bertahap. Banyak wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau mulai terbuka aksesnya. Karena kontribusinya itulah, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai “Bapak Pembangunan Way Kanan”. Julukan tersebut bukan hadir karena pencitraan, tetapi karena masyarakat benar-benar menyaksikan bagaimana Way Kanan dibangun dari kondisi yang sangat terbatas menuju daerah yang mulai berkembang.

Selain pembangunan fisik, Tamanuri juga dikenal sebagai tokoh yang memperkuat birokrasi dan memperjuangkan otonomi daerah. Ia menjadi salah satu deklarator APKASI, organisasi yang memperjuangkan penguatan pemerintahan kabupaten di seluruh Indonesia. Baginya, daerah harus memiliki kemampuan mengatur dan membangun wilayahnya sendiri demi kesejahteraan masyarakat.

Di tengah kesibukannya sebagai pemimpin daerah, Tamanuri tetap dikenal dekat dengan rakyat. Banyak masyarakat memandangnya sebagai figur pengayom, sosok yang sederhana dan mau mendengar aspirasi masyarakat kecil. Sikapnya yang teduh membuatnya dihormati lintas generasi.

Pengabdiannya kepada masyarakat tidak berhenti setelah selesai menjabat sebagai Bupati Way Kanan dua periode pada tahun 2010. Ia melanjutkan perjuangannya sebagai anggota DPR RI Fraksi NasDem dari daerah pemilihan Lampung II pada periode 2014–2026. Di tingkat nasional, ia tetap memperjuangkan pembangunan infrastruktur pedesaan, bantuan sosial, serta aspirasi masyarakat Lampung.

Dedikasi panjangnya dalam pemerintahan dan pembangunan membuat Tamanuri menerima berbagai penghargaan, di antaranya Satyalancana Pembangunan, Satyalancana Karya Satya 30 Tahun, Lencana Melati Kwarnas Pramuka, hingga Bintang Legiun Veteran RI.
Kabar wafatnya pada 23 Maret 2026 di Jakarta menjadi duka mendalam bagi masyarakat Way Kanan dan Provinsi Lampung. Kepergiannya meninggalkan kehilangan besar, terutama bagi masyarakat yang pernah merasakan langsung kepemimpinannya.

Namun seorang pemimpin sejati tidak hanya dikenang karena jabatan yang pernah diemban, melainkan karena jejak pengabdian yang ditinggalkan. Dan Tamanuri telah meninggalkan jejak itu di Way Kanan—melalui jalan-jalan yang terbuka, pemerintahan yang berdiri, serta semangat pembangunan yang terus hidup hingga hari ini.

Nama Tamanuri akan selalu menjadi bagian penting dari sejarah Way Kanan: seorang perintis, pengayom, dan pemimpin yang membangun daerahnya dengan ketulusan serta pengabdian panjang untuk rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *